DPD GSPI PROPINSI RIAU DAN TIM GSPI KAB. SIAK MENGINISIASI PERTEMUAN MUSYAWARAH PERMASALAHAN DAN PERUNTUKAN TANAH WAKAF BERSAMA CAMAT KANDIS, KADES BEKALAR, KADUS SEI LEKO, KETUA RT, KUA KANDIS, TOKOH MASYARAKAT DAN MEDIA

Iklan Semua Halaman

DPD GSPI PROPINSI RIAU DAN TIM GSPI KAB. SIAK MENGINISIASI PERTEMUAN MUSYAWARAH PERMASALAHAN DAN PERUNTUKAN TANAH WAKAF BERSAMA CAMAT KANDIS, KADES BEKALAR, KADUS SEI LEKO, KETUA RT, KUA KANDIS, TOKOH MASYARAKAT DAN MEDIA

30 Maret 2022





BUSER-NEWS – KANDIS, 29 MARET 2022

Kelanjutan dari pada musyawarah tanah wakaf di Desa kampung BEKALAR,bersama DPD GSPI PROPINSI RIAU  turut hadir dalam rapat tersebut dari pihak kecamatan Kandis,KUA Kandis,ketua ketua RT,tokoh masyarakat,media dan tim GSPI Siak H.fendy purba selaku korwil/Kabiro media online Buser news Riau.

Didalam rapat tersebut menurut keterangan tanah wakaf yang disampaikan oleh kepala kampung desa bekalar,pak  Dahniel,belum ada dasar surat tanah wakaf dari pihak ahli waris yaitu surat menyurat pengibaan tanah wakaf,yang dia ketahui,menurut keterangan kepala kampung Desa Bekalar sebelum menjadi kades,masih dalam jabatan sekdes tahun 1996 bahwasanya tanah wakaf di km 53dusun Leko masih dimiliki perusahaan PT Johannes,tetapi dalam surat tanah yang dimiliki PT Johannes saya juga belum tau,"jelas nya.status tanah tersebut diketahui oleh RW pak kanir,Dan RT pak Dahar,"ungkap nya kembali. Dalam musyawarah tersebut kepala kampung juga memberi kesempatan  kapada yang lain unt memberi penjelasan,dan RT 05 pak Afrizal warga penduduk dusun Leko yang sudah 56 tahun berada di dusun Leko,tempat tanah wakaf sekarang yang berada di Desa kampung BEKALAR  mengetahui asal usul tanah wakaf tersebut benar adanya seluas 3ha diibakan oleh mendiang almarhum Hartoyo kepada warga,atau masyarakat serta dokumen nya unt memperjuangkan tanah tersebut juga ada dan saksi saksinya.dan pak Sondang Hutabarat juga mengatakan tanah wakaf tersebut juga benar ada diibakan kepada masyarakat seluas 3ha oleh mendiang Hartoyo,2ha unt makam muslim,dan 1ha unt makam non muslim(Nasrani),sebab tahun 1984 PT Johannes menyerahkan tanah kepada mendiang Hartoyo dan Hartoyo menyerahkan tanah tersebut sebidang 3ha untuk wakaf kepada masyarakat,"ucap nya.

Dan tolong sejarah tanah ini harus diingat oleh masyarakat,"katanya kembali. Sedangkan kepada mantan RT 01Rw 01,Dusun Leko oleh Mimin Damanik juga menjelaskan keberadaan tanah wakaf tersebut ada 3 versi,ada yang mengatakan tanah PT Johannes,tanah kuburan,tanah Caltex,karena pada tahun 1998 saya disuruh menjual tanah pak Hartoyo mengukur tanah nya untuk dijualkan,dan saya ukur ada 5ha,dan mencarikan pembelinya yaitu,pak Marzuki nama aslinya Ratna Sari,"ucap mimin.dan kemudian saya jumpai disam Sam dan mengatakan ukuran tanah tersebut tinggal sisa 135x100x135 itu yang sisa,karena yang lain sudah terjual  sebesar 6juta rupiah,ucap Mimin kembali.dan tanah kuburan kenapa terjual,diatas tanah tersebut sudah terbangun Pustu(puskesmas pembantu) didekat tanah wakaf,dan Mimin menjelaskan kembali pada saat itu,mereka menjumpai PT Johannes untuk dibuat jalan seminisasi agar dibangun jalan didusun Leko.

Namun dikesempatan kembali berbicara Antoni Pasaribu RT 08 dusun Leko bahwa tanah tersebut diibakan sebanyak 3ha,kepada masyarakat oleh mendiang pak Hartoyo,dan pak Antoni saksi masih hidup untuk mengukur kembali tanah tersebut pada tahun 1995,yang dulunya adalah pak Hartoyo bapak angkat saya,pada saat itu mereka ada 12 orang untuk menumbang pohon dan mengimas diladang parhotoyo,pak Hartoyo juga didepan yang 12 orang mengatakan bahwa tanah PT johannes itu sudah diserahkan dan diberikan kepada saya,"ucap Hartoyo,kepada pak Antoni Pasaribu RT 08,dan pak Hartoyo juga mengatakan tanah nya akan diserahkan sebanyak 3ha,kepada masyarakat untuk pekuburan tanah wakaf,mulai warga simpang gelombang sampai dusun Leko KM49.dikiri dan sebelah kanan  badan jalan.dari 3ha,tersebut 2ha,untuk wakaf muslim,dan 1ha untuk tanah wakaf non muslim(Nasrani),ucap nya kembali.

Bukan PT Johannes yang mengibakan tanah nya,melainkan pak Hartoyo lah meminjam kan tanah nya kepada PT Johannes."ucap Antoni Pasaribu kembali menjelaskan.dan saya berani bersumpah demi Allah,ucap nya kembali.dan anak dari pada ahli waris juga menjelas kan bahwa tanah wakaf tersebut benar adanya diibakan oleh mendiang ayah nya pak hartoyo,tapi dia tidak tau berapa ukurannya,sebab dia masih kecil masih SMP,hanya mendengar tanah nya ada diibakan untuk wakaf tersebut.

Oleh ayah nya mendiang pak Hartoyo,hanya kakak nya yang mengetahui penuh atas pengibaan tanah untuk wakaf tersebut,"ucap nya kembali,

Menurut pandangan Dari pihak DPD GSPI(Generasi sosial peduli Indonesia)Riau dan Tim GSPI Siak setelah mendengar dari semua penjelasan tanah wakaf yang diibakan tersebut merasa sangat ada kejanggalan,dari keterangan tersebut pihak RT 08,RT 05 dan pak Sondang Hutabarat menjelaskan dan membenarkan adanya tanah wakaf seluas 3ha,sedangkan saudara Mimin Damanik mengatakan sisa tanah wakaf sebanyak 135x100x135m2,pihak GSPI meragukan saudara Mimin Damanik,dengan keterangan dugaan palsu,sebab tanah Mimin yang berada didusun Leko juga belum jelas asal usul surat tanah yang dimiliki oleh Mimin Damanik,apakah saudara Mimin mempunyai surat tanah yang ukuran nya dimaksud,??"dan Asal usul tanah nya bertempat tinggal apakah jelas surat surat tanah nya,sebab tim GSPI dan media sudah melihat tidak ada surat SKT pertinggal surat tanah yang dimiliki Mimin Damanik dikantor desa.ini sangat diragukan oleh pihak GSPI,dan pihak dari pada GSPI juga segera membuat stagmen untuk pengukuran ulang kembali tanah wakaf tersebut,dan dari pihak kecamatan pun akan membuat stagmen untuk undangan pengukuran tanah itu kembali secepat nya.bila mana ada keberatan diatas tanah yang diukur maka akan dibawa keranah hukum unt mempertanggung jawabkan perbuatan nya,ungkap kasipem.dan pihak kecamatan juga nantinya akan meminta surat tanah dari anak ahli waris unt diibakan kepada masyarakat agar dibuat surat keterangan tanah wakaf tersebut,dan ditantangani oleh saksi saksi yang menghadiri musyarawarah tanah wakaf tersebut nantinya.dan untuk pengukuran ulang tanah tersebut.

(H. Fendy B. Purba dan Tim)